Malang-ku sayangg :)
PERKEMBANGAN MORFOLOGI KOTA MALANG, JAWA TIMUR
Pada dasarnya, perkembangan dan pertumbuhan kota adalah bentuk tuntutan kebutuhan ruang oleh penduduk dan kegiatan fungsionalnya. Perkembangan morfologi kota adalah perkembangan yang terjadi pada suatu kota, yang dapat dilihat pada jangka waktu yang pendek maupun jangka panjang.
Malang, merupakan salah satu kota besar di Propinsi Jawa Timur setelah Surabaya. Seperti halnya kota-kota besar lainnya, perkembangan fisik dari kota Malang cukup pesat. Kondisi bentang alam berupa perbukitan yang ada di Kota Malang serta adanya hawa sejuk menjadikan Malang memiliki daya tarik tersendiri.
Dari segi historisnya, Kota Malang mulai tumbuh dan berkembang setelah kehadiran administrasi kolonial Hindia Belanda. Fasilitas-fasiltas umum direncanakan sedemikian rupa guna memenuhi kebutuhan keluarga Belanda. Setelah itu, berbagai kebutuhan masyarakat setempatpun menjadi semakin meningkat terutama akan ruang gerak untuk melakukan berbagai kegiatan. Oleh karena itu, terjadilah perubahan tata guna lahan, daerah yang terbangun bermunculan tanpa terkendali. Fungsi lahan ini mengalami perubahan yang sangat pesat, seperti dari fungsi pertanian menjadi perumahan dan industri. Bentuk bangunan dan tata ruang pusat kota yang terbentuk pada masa kolonial Belanda menyebabkan bentuk-bentuk arsitektur gedung meniru gaya Eropa.
Kantor Walikota Malang
Perkembangan fisik Kota Malang terdapat kecenderungan arah perkembangan berdasarkan jaringan jalan yang menghubungkan pusat kota dengan hinterlandnya. Kecenderungan perkembangan sangat kuat mengarah ke Barat Kota Malang, yaitu Kota Batu. Menuju Kota Batu dihubungkan dengan jalan kolektor primer. Sedangkan kecenderungan perkembangan sangat lemah mengarah ke Selatan Kota Malang yaitu Kecamatan Tajinan yang hanya dihubungkan dengan jaringan jalan lokal primer tanpa terdapat dominasi perkotaan.
Perkembangan fisik dan prasarana Kota Malang ini dirasa tidak merata di seluruh pelosok kota. Pesatnya perkembangan fisik Kota Malang dibagian utara dan barat tidak diimbangi dengan perkembangan fisik dibagian timur dan selatan Kota Malang. Oleh karena itu, diperlukan adanya skenario pengembangan wilayah. Adanya skenario ini diharapkan terjadinya perkembangan pembangunan yang merata, setidaknya perkembangan dibagian timur dan selatan Kota Malang bisa lebih terpacu.
Adanya program yaitu Malang sebagai kota wisata, yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kota Malang, ikut mempengaruhi perkembangan fisik Kota Malang. Karena pada akhirnya terdapat beberapa obyek wisata yang cukup terkenal di Kota Malang itu sendiri maupun didaerah sekitarnya. Seperti, Taman Rekreasi Kota (Terako) yang terdapat di tengah Kota Malang, Ijen Boulevard dan Museum Brawijaya yang merupakan peninggalan kolonial Belanda.
Selain obyek wisata tersebut, ada juga agro wisata perkebunan apel yang terdapat dibagian Barat Kota Malang yaitu Kota Batu. Obyek-obyek wisata ini benar-benar diperhatikan kualitasnya oleh pemerintah setempat. Tidak heran jika kini mulai bermunculan obyek-obyek wisata baru.
Menurut saya, pesatnya perkembangan suatu kota harus tetap memperhatikan permasalahan yang terdapat di kota tersebut. Pada Kota Malang, permasalahan yang terjadi adalah distribusi pemerataan yang hingga saat ini masih belum tercapai. Dalam arti, lokasi-lokasi kegiatan sekunder tersebut langsung berada ditengah-tengah masyarakat pendukungnya, sehingga jangkauan aksesibilitasnya dapat terlayani secara merata. Tampak seperti adanya penumpukan perkembangan hanya dibeberapa bagian kota saja. Seperti perkembangan pusat perdagangan yang lebih bertumpuk di pusat kota.
Oleh sebab itu,perlu adanya penataan dan perencanaan pada wilayah pinggiran. Dengan begitu, diharapkan seluruh masyarakat dapat merasakan perkembangan dan manfaat ruang kota dengan merata dan seimbang.



more articles, click here!

Komentar
Posting Komentar