Pelukan Seorang Ibu

"Aku kangen rumahku.."
"Aku kangen ibuku.."
"Ibuku apa kabarnya ya?"
"Ibuku lagi apa ya?"

Aku sering mendengar kata-kata seperti itu berasal dari teman-teman kuliahku yang merupakan anak rantauan. Begitulah hidup mahasiswa, kamu akan bertemu banyak orang dari berbagai daerah. Mereka yang datang dari luar daerahmu datang dengan membawa misi pendidikan dengan tekad penuh untuk menempuh pendidikan dan berharap dapat membawa hasilnya ke daerah asalnya. Bukan sekali dua kali aku mendengar curahan hati temanku tentang betapa rindunya mereka pada kampung halaman, pada sanak saudara, pada bapak dan kepada ibu.
Apa yang aku lakukan ketika aku mendengar curahan hati mereka? Aku hanya bisa menenangkan mereka dan mendengar apa yang mereka ceritakan. Aku tidak bisa memeluknya dan berkata "Iya, aku mengerti bagaimana rasanya" atau berbagi cerita mengenai kerinduan seperti itu. Aku tidak bisa karena sejujurnya aku belum pernah merasakan hal seperti itu. Sedari kecil aku selalu hidup di daerah asalku, hidup bersama orangtuaku dan kakak-kakakku. Aku tidak pernah mengerti bagaimana rasanya rindu yang membuncah kepada bapak atau ibu atau rumahku di daerah asalku, karena bagaimanapun keadaannya aku akan selalu pulang ke rumah.
Aku telah memasukin semester-semester akhir perkuliahanku. Yang kurasakan sejujurnya adalah langkah ini semakin berat karena aku akan mulai melakukan semuanya sendiri setelah sekian tahun segala pekerjaan hampir selalu dilakukan bersama. Aku mulai merasa gampang lelah dan kehilangan arah tentang apa yang harus aku lakukan. Aku mulai sering merasa bahwa kini saatnya aku berjalan sendiri dan aku akan berdiri sendiri. Sejujurnya hal ini membuatku takut, aku takut menghadapi segala kesendirian ini.
Beberapa hari yang lalu, aku sempat jatuh sakit, kelelahan. Aku tidak merasa pernah berkegiatan hingga membuat ku sangat lelah, setelah ku pikir aku mungkin lelah secara batin. Aku mulai demam dan diikuti oleh flu. Ibuku masuk ke kamarku dan yang aku bisa lakukan adalah menatapnya dan menangis. Aku tidak tahu kenapa aku menangis, yang kurasakan adalah aku ingin menangis dipelukan seseorang dan membuang segala lelah yang aku rasakan. Kemudian Ibuku mulai memelukku, dan menenangkan aku. Bertanya "Kamu kenapa? Apanya yang sakit?" dan aku hanya bisa menangis dan berkata "Aku sakit semua, Ma" lalu kembali menangis. Hingga beberapa saat hanya itu yang bisa kulakukan sedangkan Ibuku tetap memelukku dan menepuk-tepuk bahuku.
Orangtuaku membawaku ke sebuah rumah sakit untuk memeriksakan keadaanku. Hingga tiba di rumah sakit, aku tetap memeluk Ibuku, memeluk lengannya sebenarnya karena tidak mungkin untuk aku benar-benar memeluknya. Aku terus menangis karena perasaanku hingga perawat memanggilku masuk ke ruang periksa. Alhamdulillah bukan sakit yang parah meskipun cukup mengganggu kesehatan. Selama itu aku tidak pernah melepaskan pelukanku dari Ibuku hingga aku tertidur dan bangun lagi dikemudian harinya. Pelukan Ibuku membuatku tenang dan 'sembuh' dari rasa sakit yang aku rasakan.
Sekarang aku punya hobi baru. Ketika aku sudah mulai merasa lelah, aku kan memeluk Ibuku, kapanpun. Aku merasa pelukkan Ibuku seperti aliran listrik yang digunakan untuk menghidupkan gadget. Pelukan Ibuku yang menguatkan aku untuk tetap berjalan diarah yang seharusnya, untuk tetap melanjutkan apa yang telah aku lakukan dan untuk menyelesaikan apa yang aku mulai dengan baik.
Mungkin perasaan seperti ini yang selalu dirasakan teman-temanku jika mereka mulai rindu akan kampung halamannya, rindu pada mereka yang selalu mengisi energi dalam dirinya. Mungkin memang tidak sepenuhnya mengerti, tapi aku dapat merasakannya betapa dorongan dari mereka yang berharga dapat mengembalikan 'kewarasan' kita.
Oh tentu saja aku juga menyayangi Ayahku, tapi aku tidak terlalu bebas untuk memeluk Ayahku hehee tapi tak bisa dipungkiri bahwa Ayah juga merupakan orang yang sangat berada di belakang kita apapun keadaan kita.

Seperti yang terjadi malam ini. Ketika aku baru pulang dari kos teman setelah seharian mengerjakan tugas dan merasa sangat butuh penyemangat, aku membersihkan diri dan kemudian menyelinap masuk ke kamar tidur orang tuaku, diam-diam naik ke atas kasur dan masuk ke dalam pelukannya. Ibuku terbangun namun beliau hanya menepuk-tepuk bahuku dan berkata "Mau tidur jam berapa? Dijaga yaa badannya, kan lagi sakit" tidak ada kata yang keluar dari mulutku, aku hanya menganggukkan kepala sambil mempererat pelukanku.
Aku tahu, seperti ini saja sudah cukup untukku. Tahu bahwa Orangtuaku ada di sini bersama aku, itu cukup. dan setelah beberapa menit, aku melepaskan pelukanku, mencium kedua pipi Ibuku lalu kembali ke kamar tidurku untuk menyelesaikan tugas-tugasku.
Terimakasih Ibu atas pelukanmu yang selalu menenangkanku dan terimakasih Ayah atas segala amarahmu yang selalu menyadarkanku atas tindakan salahku. Aku selalu mencintaimu :)


"I don't stop when I'm tired. I stop when I'm done."
-read somewhere.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

However, i love you