Sebuah Pertemuan, siang itu.
Akan kutuliskan sebuah kisah mengenai pertemuan. Setelah ini jangan kau tanyakan siapa aku - siapa dia dan dimana aku - dimana dia. Mengertilah, sebuah pertemuan yang hanya beberapa saat dapat menghantarkanmu kepada imajinasi hingga waktu mendatang.
Untuk kesekian kalinya aku menginjakkan kakiku di stasiun kecil ini. Stasiun yang akhir-akhir ini sering aku datangi bersama teman-temanku. Namun kali ini aku berada di stasiun ini hanya seorang diri. Seharusnya aku tidak merasa asing karena tempat ini juga bukan tempat asing bagiku, tapi hari itu aku merasa sangat asing dengan stasiun ini. Aku melambaikan tangan kepada seorang teman yang menghantarkan ku ke stasiun dan berharap suatu saat aku akan bertemu dengannya kembali. Saat berada di stasiun ini, yang ada dibenakku adalah ini saatnya untuk berpisah. Berpisah dengan apapun, dengan kota ini, dengan teman, dengan sebuah rumah, dengan suatu suasana.
Setelah kupastikan bahwa temanku telah berlalu, aku mulai melangkah masuk ke dalam stasiun. Menuju sebuah konter untuk membeli tiket kereta. Bersamaan denganku, ada seorang pria juga baru memasuki halaman stasiun. Dia berlalu dihadapanku bersamaan dengan lirikan matanya yang tertuju pada barang bawaan yang ada pada tanganku. Ya, hari itu aku membawa cukup banyak barang hingga aku cukup kewalahan. Dia berlalu dihadapanku dan mulai menuju tempat penjualan tiket. Hanya ada aku dan dia di konter tiket tersebut, namun karena aku masih sibuk menata barang bawaanku hingga dia akhirnya maju duluan untuk membeli tiket. Setelah menata barang bawaan di tanganku dan telah mengeluarkan uang yang cukup untuk membeli tiket aku mulai mengantri di belakangnya. Sempat kuamati sosok tersebut. Aku menilai bahwa orang ini sangat sederhana. Dia hanya menggunakan kaos berwarna kuning pucat, celana jeans hitam, sandal berwarna hitam dan membawa tas ransel berwarna hitam yang disampirkan disalah satu pundaknya. Di waktu yang sedikit itu sempat kunilai dia, bahwa dia seperti hal nya lelaki lainnya, dengan pembawaan yang sederhana cenderung tidak memperhatikan penampilan. Penilaianku terhenti seiring dengan dia berlalu dihadapanku setelah menyelesaikan transaksi tiket. Kini saatnya aku untuk melakukan pembelian tiket.
Sambil menunggu tiket berpindah ke tanganku, aku masih sibuk menata barang bawaan di tanganku serta dapat ku dengar sayup-sayup pemberitahuan bahwa akan ada kereta yang melewati stasiun tersebut, sehingga para penumpang diharapkan tidak mendekati pinggir peron. Kini tiket sudah ada di tanganku, masalah selanjutnya adalah bagaimana aku harus membawa barang bawaanku ini namun tiket tetap dapat terbawa, karena sejujurnya kedua telapak tanganku telah terisi penuh dengan barang bawaan. Kuputuskan untuk meletakkan salah satu barangku sehingga aku dapat menunjukkan tiketku dan dapat melalui rolling door tersebut. Jika belum jelas, tiket keretaku ini berupa kartu yang harus diletakkan pada suatu sensor sehingga rolling door dapat berfungsi dan kita dapat melaluinya. Kuletakkan salah satu barangku di bawah dekat dengan kakiku dengan harapan akan memudahkanku untuk membawanya setelah aku berhasil melalui sensor tiket ini. Kartu tiket telah berhasil melalui sensornya, kini saatnya aku melalui rolling door tersebut. Sebelum aku melangkah, tak lupa kuangkat kembali barang yang sebelumnya aku letakkan. Namun saat aku akan melangkah pintu tersebut tidak mau berputar, aku berpikir apakah pintu ini ada detikannya sebelum terkunci dan harus memasukkan kartu tiket lagi? Sambil aku berpikir secara tak sadar aku menyeletuk "Ih kok nggak bisa sih!" . Sesaat setelah itu, aku mendengar suara tawa tertahan dari seseorang, aku mengangkat kepalaku dan ku lihat dia, pria itu, ada di hadapanku sedang menatapku dan sedang menahan tawanya. Aku merasa seakan waktu berhenti karena aku berpikir dimana letak lucunya dari tingkahku hingga membuat dia tertawa, bahkan seorang satpam yang ada disebelahnya tidak menunjukkan tanda-tanda terhibur. Pada akhirnya, satpam tersebut membantuku untuk dapat melalui pintu tersebut.
Setelah aku berhasil melalui pintu itu, aku melihat dia telah berjalan menuju salah satu bangku yang ada di peron 1. Masih dengan barang bawaanku, aku berjalan di belakang pria tersebut dan berjalan menuju peron yang sama dengan nya. Pada bangku pertama yang kutemui, ku hentikan langkahku, duduk dan meletakkan barangku di lantai. Aku melihatnya tetap berjalan lurus menuju bangku ketiga yang berjarak cukup jauh dari bangku ku. Kemudian ku dengar pengumuman bahwa kereta ku masih akan datang 10 menit lagi. Sambil menunggu, ku edarkan mataku melihat kegiatan orang-orang yang ada di sekelilingku, baik yang yang berada di peron yang sama denganku maupun mereka yang ada di peron yang berbeda denganku. Tetap ku edarkan pandanganku hingga tertuju pada bangku ketiga. Aku mencarinya, karena aku yakin tadi dia berhenti dan duduk dibangku ketiga tersebut. Setelah beberapa saat, kulihat hanya ada tiga orang yang duduk di bangku tersebut dan ketiganya adalah seorang pria. Dua orang pertama sedang duduk bersebalahan dan daling berbicara sedangkan orang ketiga, aku tidak dapat melihat wajahnya secara jelas karena dia duduk agak bersadar sehingga terhalang oleh dua orang di sebelahnya.
Kuedarkan lagi pandanganku sambil berpikir dimaa pria itu berada hingga kemudian kedua orang yang berada di bangku ketiga ini mulai duduk bersandar. Pada saat itulah kulihat dia, pria itu. Dia adalah orang ketiga yang sudah kusebutkan tadi. Dia ada disana, duduk bersandar dengan eraphone terbenam dilubang telinganya, dengan tas yang berada disamping pangkuannya dan dengan buku yang terbuka. Dia membaca buku. Pria itu membaca buku. Di stasiun kereta api dan sedang membaca buku.
Untuk beberapa saat aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya. Aku diam dan terpana. Apa yang aneh darinya? Apa yang sedang dia baca? Mengapa dia membaca buku di stasiun kereta api? Berbagai pertanyaan bermunculan dibenakku. Dan aku masih terpana. Apakah aku jatuh cinta? Ataukah aku hanya kagum melihatnya? Yang kemudian aku sadari adalah, tidak ada hal yang aneh tentang seseorang sedang membaca buku, tidak ada alasan yang membuat aku jatuh cinta padanya atau kagum padanya. Kucoba alihkan pandanganku. Namun beberapa saat kemudian aku kembali memandangnya. Dan masih memandangnya.
Sebuah pengumuman yang memberitahu bahwa kereta akan segera datang menyadarkanku dari lamunanku. Aku bangkit dari kursiku dan mulai melangkah mendekati tepi peron untuk memudahkan aku masuk ke dalam gerbong kereta. Sambil sesekali aku melirik ke arah bangku ketiga, ku lihat dia pun sudah menutup bukunya dan mulai melangkah menuju tepi peron. Kemudian aku tidak tahu apa yang merasukiku, aku mengangkat kepalaku dan aku melihatnya. Melihat dia yang juga sedang memandang ke arahku. Dia memandangku dengan senyumnya yang miring, persis seperti tadi, dengan bentuk bibir menahwan tawanya. Hingga kereta datang tepat di depanku, maka akupun mulai melangkah masuk ke dalam kereta. Aku di gerbong pertama dan dia digerbong kedua, namun kedua gerbong ini saling terhubung sehingga aku bisa melihat ke arah gerbong kedua dan begitu sebaliknya. Perhatianku sempat teralihkan karena aku harus mencari temapt dudukku dan harus meletakkan barang-barangku sehingga tidak mengganggu orang lain.
Perhatianku teralih hingga kereta berjalan kembali. Aku mengedarkan pandanganku keluar jendela kereta, mencoba untuk merekam sebanyak mungkin gambaran kota yang sebentar lagi akan aku tinggalkan. Saking asyiknya aku pun melupakan pria itu. Tak berlangsung lama, kereta ini hampir mencapai pemberhentian ke empat. Tiba-tiba kualihkan pandanganku ke dalam gerbong kereta, tepatnya gerbong kedua dimana pria tersebut berada. aku belum menemukan dimana dia duduk hingga kereta berhenti stasiun ke empat. Pintu kereta terbuka sangat lebar. Pada saat itulah aku melihat punggungnya sedang berjalan menjauhi kereta ini. Ternyata dia turun di stasiun keempat ini. Tiba-tiba rasa sedih menghampiriku. Ini kesempatan terakhirku berada di kota ini dan itu artinya kesempatan terakhirku untuk dapat melihat pria tersebut. Kursiku berada dekat dengan pintu kereta sehingga aku masih tetap bisa memandang punggungnya yang berlalu semakin jauh. Hingga kemudian dia berhenti, membalikkan badannya dan pandanganku bertemu dengannya.
Dia ada disana, dengan satu tangan memegang pegangan tas ranselnya dan kemudian perlahan-lahan tangan yang satunya terangkat dan diam. Dia ada disana, sedang memandang ke arahku. Dia ada disana, tersenyum. Dia ada disana, memandang kearahku, tersenyum dengan tangan melambai kearahku. Seketika kuputar kepalaku untuk memastikan apakah ada orang lain yang berada di dekatku yang mungkin mengenalnya sehingga lambaian tangan it bukan untukku. Namun ternyata tidak ada, seakan dunia sedang berkompromi dan semua orang yang berada di dekatku sedang memandang ke arah yang berbeda denganku. Ku tolehkan lagi kepalaku ke arah pria itu. Senyum menahan tawanya muncul lagi, bahkan sekarang cenderung terkikik. Aku masih terpana memandangnya hingga pintu kereta perlahan mulai tertutup. Akhirnya pintu kereta tertutup sepenuhnya namun aku masih bisa melihatnya. Ya, aku masih melihatnya. Dia disana memandang kearahku, tersenyum dan melambaikan tangan seiring dengan berjalannya keretaku.
Aku merasa waktu terhenti. Tapi itu tidak mungkin terjadi karena aku masih merasakan guncangan kereta ini. Kereta ini berjalan yang berarti bahwa waktupun berjalan. Aku masih diam dalam lamunanku hingga kereta berhenti di stasiun ke enam, dimana stasiun ini adalah stasiun tujuanku. Maka akupun melangkahkan kakiku keluar dari gerbong kereta.
Nah, begitu kisahnya. Bagaimana, apakah kau suka? Apakah kau puas? Tidak? Sama. Akupun begitu. Aku tidak suka kisah ini, aku tidak puas dengan kisah ini. Bagaimana aku harus mengakhiri kisah ini? Kau bisa bantu aku?
Setelah aku turun dari kereta, ku lanjutkan perjalananku dan masih terpana. Siapa dia? Apakah aku mengenalnya? Apakah dia melambai kearahku? Apakah senyum itu untuk ku? Semua pertanyaan ini bermunculan dan aku tidak tahu jawabannya.
Dalam diamku, aku tersentak. Aku tersadar, aku mungkin mengenalnya, aku mungkin mengetahuinya.
Dia ada dalam imajinasiku. Dia ada dalam gambaran imajinasiku. Beberapa hari sebelum hari itu, aku menggambar sesosok pria yang aku sendiri tidak tahu siapa dia. Aku menggambarnya. Aku menggambarkan seorang pria yang sedang membaca buku dan kutuliskan bahwa dia adalah pria yang ingin kutemui dala hari-hariku. Ya, aku mengingatnya. Aku menggambarnya, pria yang membaca buku dan pria yang sangat ingin ku temui meskipun aku tidak tahu siapa dia.
Dia ada disana. Pria dalam imajinasiku. Dia muncul di kehidupan nyataku.
Nah, bagaimana dengan yang ini? Apa sekarang kau suka? Apa sekarang kau puas?
Aku percaya bahwa dalam hidup ini ada pertemuan dan ada perpisahan.
Ada imajinasi dan ada dunia nyata.
Mana yang kau pilih??
Sekali lagi kukatakan, setelah kau membaca kisah ini, jangan kau tanyakan siapa aku - siapa dia dan dimana aku - dimana dia. Jangan pula kau tanyakan bagaimana kelanjutan kisah ini.
Jika kau belum puas dengan kisah ini, jangan sungkan untuk menggunakan imajinasimu. Imajinasi tidak akan membunuhmu selama kau sadar bahwa kau masih memiliki dunia yang nyata.
Kamu detail banget ngejelasin situasi disitu ya naboo... :'D
BalasHapus